AS-Iran Kembali Memanas, Harga Minyak Dunia Merangkak Naik

AS-Iran Kembali Memanas, Harga Minyak Dunia Merangkak Naik

JAKARTA – Harga minyak dunia kembali mengalami kenaikan setelah ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali memanas akibat aksi saling serang yang terjadi di kawasan Timur Tengah. Situasi tersebut memicu kekhawatiran pelaku pasar terhadap gangguan pasokan energi global, terutama melalui jalur strategis Selat Hormuz yang menjadi urat nadi distribusi minyak dunia.

Berdasarkan laporan perdagangan terbaru, harga minyak mentah Brent tercatat menguat sekitar 0,8 persen menjadi US$72,57 per barel, sementara minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat naik sekitar 1,3 persen menjadi US$70,11 per barel. Penguatan tersebut terjadi setelah serangkaian serangan balasan antara AS dan Iran kembali memicu ketidakpastian pasar energi global.

Kenaikan harga minyak ini sekaligus membalikkan tren pelemahan yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir, ketika pasar sempat optimistis terhadap kemungkinan meredanya konflik di kawasan Teluk Persia. Namun, meningkatnya kembali eskalasi militer membuat pelaku pasar kembali memasukkan faktor risiko geopolitik dalam perhitungan harga minyak dunia.

Ancaman terhadap Pasokan Global

Para analis menilai, fokus utama pasar saat ini tertuju pada kondisi di Selat Hormuz, jalur pelayaran yang mengalirkan sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Gangguan terhadap lalu lintas kapal tanker di kawasan tersebut berpotensi menimbulkan dampak besar terhadap stabilitas energi internasional.

Analis dari ING dalam laporannya menyebutkan bahwa risiko terhadap pasar minyak masih sangat tinggi, meskipun sebagian pelaku pasar masih berharap pemulihan distribusi energi dapat berlangsung lebih cepat.

“Masih terdapat banyak risiko yang dihadapi pasar minyak. Optimisme terhadap pemulihan pasokan justru dapat menyisakan potensi kenaikan harga yang lebih besar apabila proses pemulihan berjalan lambat,” demikian analisis yang dikutip Reuters.

Senada dengan itu, analis ANZ Bank memperingatkan bahwa asumsi pasar mengenai cepatnya normalisasi pasokan minyak dari kawasan Teluk Persia kemungkinan perlu dievaluasi kembali. Mereka memperkirakan pemulihan penuh distribusi energi dapat memerlukan waktu hingga akhir tahun akibat antrean kapal tanker, kerusakan infrastruktur, serta gangguan produksi di sejumlah wilayah terdampak konflik.

Baca Juga :  Perempuan di Pangkalan Banteng Dibakar, Pelaku Diburu Polisi

Selat Hormuz Jadi Titik Kritis

Ketegangan terbaru antara Washington dan Teheran kembali menempatkan Selat Hormuz sebagai titik kritis perdagangan energi dunia. Sebelumnya, kedua negara sempat membuka ruang negosiasi untuk menormalkan kembali aktivitas pelayaran internasional di kawasan tersebut. Namun, aksi saling serang yang kembali terjadi memicu kekhawatiran bahwa upaya perdamaian tersebut belum sepenuhnya stabil.

Presiden AS sebelumnya menegaskan bahwa Selat Hormuz merupakan jalur perairan internasional yang tidak boleh dikuasai oleh pihak manapun. Pernyataan tersebut menjadi salah satu pemicu meningkatnya tensi diplomatik dan militer antara kedua negara.

Dampak bagi Perekonomian Global

Pengamat energi menilai, apabila eskalasi konflik terus berlanjut, harga minyak dunia berpotensi kembali mengalami lonjakan signifikan. Kondisi tersebut dapat memicu tekanan inflasi di berbagai negara, termasuk meningkatkan biaya transportasi, logistik, dan produksi industri.

Pasar saat ini masih menunggu perkembangan diplomasi antara AS dan Iran, termasuk kepastian keamanan jalur pelayaran di kawasan Teluk Persia. Selama ketidakpastian geopolitik masih berlangsung, volatilitas harga minyak dunia diperkirakan akan tetap tinggi dalam beberapa waktu ke depan.

(Redaksi Kaltengnews.id | Sumber: detikFinance, Reuters)

Admin

Tinggalkan Balasan