FORTASBI: Kelembagaan Petani Jadi Kunci Masa Depan Sawit

FORTASBI: Kelembagaan Petani Jadi Kunci Masa Depan Sawit

PALANGKA RAYA, Kaltengnews.id – Forum Petani Kelapa Sawit Berkelanjutan Indonesia (FORTASBI) menegaskan bahwa penguatan kelembagaan petani merupakan faktor utama dalam menjaga keberlanjutan industri kelapa sawit nasional sekaligus mendorong regenerasi petani di masa mendatang.

Pernyataan tersebut mengemuka dalam diskusi yang membahas tantangan dan peluang sektor perkebunan sawit rakyat di Indonesia. FORTASBI menilai keberadaan organisasi petani yang kuat menjadi fondasi penting untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia, akses pembiayaan, penerapan praktik berkelanjutan, hingga memperkuat posisi tawar petani dalam rantai pasok industri sawit.

Sekretaris Jenderal FORTASBI, Edi Suhardi, mengatakan bahwa regenerasi petani sawit saat ini menjadi tantangan serius yang perlu mendapat perhatian bersama. Menurutnya, minat generasi muda untuk terjun ke sektor perkebunan sawit masih relatif rendah apabila dibandingkan dengan sektor pekerjaan lainnya.

“Kelembagaan yang kuat akan memperkuat posisi petani dalam rantai industri sawit, sekaligus memastikan keberlanjutan usaha dan regenerasi petani ke depan,” ujar Edi sebagaimana dikutip dari Infosawit.

Ia menjelaskan bahwa organisasi petani memiliki peran strategis dalam mendampingi anggota menghadapi berbagai tantangan, mulai dari peningkatan produktivitas kebun, penerapan standar keberlanjutan, hingga akses terhadap program-program pemerintah dan perusahaan.

Menurut FORTASBI, keberhasilan industri sawit nasional tidak hanya ditentukan oleh faktor produksi dan harga komoditas semata, tetapi juga bergantung pada kualitas kelembagaan petani yang menjadi tulang punggung perkebunan rakyat.

Baca Juga :  RI Sambut Kesepakatan Damai AS-Iran, Dorong Stabilitas Kawasan dan Ekonomi Global

Saat ini, perkebunan sawit rakyat memiliki kontribusi signifikan terhadap produksi minyak sawit nasional. Namun demikian, berbagai tantangan masih dihadapi petani, antara lain keterbatasan akses teknologi, pembiayaan, sertifikasi keberlanjutan, hingga proses regenerasi pelaku usaha perkebunan.

FORTASBI menilai penguatan kelembagaan dapat menjadi solusi untuk menjawab berbagai persoalan tersebut. Melalui kelembagaan yang kuat, petani dapat memperoleh pendampingan, akses informasi, pelatihan, serta peluang kemitraan yang lebih luas dengan berbagai pihak.

Selain itu, organisasi petani juga dinilai mampu menjadi sarana pendidikan dan kaderisasi bagi generasi muda agar lebih tertarik mengembangkan usaha perkebunan sawit secara profesional dan berkelanjutan.

Di tengah tuntutan pasar global yang semakin menekankan aspek keberlanjutan, petani sawit Indonesia dituntut untuk mampu beradaptasi dengan berbagai standar dan regulasi yang terus berkembang. Karena itu, keberadaan kelembagaan petani yang solid menjadi semakin penting untuk menjaga daya saing industri sawit nasional.

FORTASBI berharap pemerintah, perusahaan, lembaga pendamping, dan seluruh pemangku kepentingan dapat terus memperkuat peran organisasi petani sebagai mitra strategis dalam mewujudkan industri sawit yang inklusif, berkelanjutan, dan mampu memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Sumber: Infosawit.com
Editor: Kaltengnews.id

Admin

Tinggalkan Balasan