Opini Redaksi: Kemanakah Kata ‘CANTIK’ Untuk Kota Palangka Raya?

Opini Redaksi: Kemanakah Kata ‘CANTIK’ Untuk Kota Palangka Raya?

Refleksi Hari Jadi Kota Palangka Raya ke-69 dan Pemerintah Kota Palangka Raya ke-61

Oleh: Indra Gunawan
Pimpinan Redaksi Kaltengnews.id

Tanggal 17 Juni dan 17 Juli merupakan dua momentum bersejarah bagi masyarakat Kota Palangka Raya.

Pada 17 Juni 1965 lahir Pemerintah Kota Palangka Raya. Sementara pada 17 Juli diperingati sebagai Hari Jadi Kota Palangka Raya yang pada tahun 2026 genap berusia 69 tahun.

Di usia yang tidak lagi muda, Palangka Raya sesungguhnya memikul warisan sejarah yang sangat besar. Kota ini bukan sekadar ibu kota Provinsi Kalimantan Tengah, tetapi merupakan kota yang dibangun langsung dari gagasan besar Presiden Republik Indonesia pertama, Ir. Soekarno.

Bung Karno menyebut Palangka Raya sebagai Kota Modal dan Kota Model.

Sebuah kota yang dipersiapkan menjadi simbol masa depan Indonesia. Kota yang dibangun dari semangat perjuangan, kemandirian, dan keberanian membuka peradaban baru di jantung Pulau Kalimantan.

Konsep tersebut kemudian disempurnakan menjadi visi Kota Modal, Kota Model, dan Kota Modern.

Namun ketika kita menoleh ke kondisi hari ini, muncul sebuah pertanyaan yang layak direnungkan bersama:

Kemanakah Kata “CANTIK” Itu?

Palangka Raya selama ini dikenal sebagai Kota Cantik.

Sebuah julukan yang melekat kuat dalam identitas daerah. Namun predikat tersebut seharusnya tidak hanya menjadi slogan seremonial yang muncul saat perayaan hari jadi.

Predikat “Cantik” harus hadir dalam wajah kota yang sesungguhnya.

Masih ditemukan lampu penerangan jalan yang tidak berfungsi maksimal di sejumlah ruas jalan utama, termasuk kawasan Yos Sudarso Induk dan Jalan G. Obos Induk.

Masih terlihat kabel provider yang menjuntai semrawut di berbagai titik kota sehingga mengurangi estetika tata ruang perkotaan.

Baca Juga :  Zheze Galuh Disorot, Status Facebook Picu Polemik Baru

Bahkan Taman Kuliner Sanggumang yang pernah digagas sebagai ikon ruang publik dan pusat ekonomi masyarakat terlihat kehilangan denyut kehidupannya.

Pertanyaannya kemudian, siapa yang salah?

Apakah pemerintah?

Apakah masyarakat?

Ataukah keduanya memiliki tanggung jawab yang sama?

Jawabannya tentu tidak sederhana.

Masyarakat memiliki kewajiban menjaga fasilitas publik, menjaga kebersihan, serta menumbuhkan rasa memiliki terhadap kota.

Namun pemerintah tetap memegang peran utama dalam memastikan tata kelola perkotaan berjalan baik, infrastruktur terpelihara, dan wajah kota tetap mencerminkan visi besar para pendirinya.

Mewarisi Mimpi Bung Karno

Hari Jadi Kota Palangka Raya bukan hanya tentang pesta rakyat, panggung hiburan, atau seremoni tahunan.

Momentum ini seharusnya menjadi ruang refleksi bersama.

Apakah Palangka Raya masih berjalan sesuai cita-cita Bung Karno?

Apakah konsep Kota Modal, Kota Model, dan Kota Modern masih menjadi arah pembangunan kota?

Ataukah kini hanya tersisa dalam arsip sejarah dan pidato peringatan?

Palangka Raya memiliki modal besar.

Kota ini memiliki ruang hijau luas, udara yang relatif bersih, masyarakat yang heterogen namun harmonis, serta sejarah yang tidak dimiliki banyak daerah lain di Indonesia.

Karena itu Palangka Raya layak menjadi kota yang benar-benar cantik.

Cantik dalam tata kotanya.

Cantik dalam pelayanannya.

Cantik dalam kebersihannya.

Cantik dalam infrastrukturnya.

Dan yang terpenting, cantik dalam kenyataan yang dirasakan masyarakat setiap hari.

Selamat Hari Jadi Pemerintah Kota Palangka Raya ke-61.

Selamat Hari Jadi Kota Palangka Raya ke-69.

Semoga kota yang lahir dari mimpi besar Bung Karno ini terus bertumbuh menjadi Kota Modal, Kota Model, dan Kota Modern yang sesungguhnya.

Kaltengnews.id
Aktual • Cepat • Terpercaya

Admin

Tinggalkan Balasan