APKASINDO Soroti Ganoderma dan Harga TBS, Desak Bursa CPO Nasional Diaktifkan

JAKARTA, Kaltengnews.id – Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO) menyoroti dua persoalan besar yang saat ini dihadapi petani sawit rakyat di berbagai daerah, yakni meningkatnya serangan jamur Ganoderma yang mengancam produktivitas kebun serta anjloknya harga Tandan Buah Segar (TBS) yang berdampak langsung terhadap pendapatan petani.
Kondisi tersebut dinilai semakin memperberat beban petani sawit rakyat yang selama ini menjadi salah satu pilar utama penggerak ekonomi di sentra perkebunan sawit nasional, termasuk di Provinsi Kalimantan Tengah yang merupakan salah satu daerah penghasil sawit terbesar di Indonesia.
APKASINDO menilai persoalan harga dan produktivitas harus menjadi perhatian serius pemerintah karena keduanya memiliki dampak langsung terhadap keberlanjutan usaha perkebunan rakyat. Apabila tidak segera ditangani, maka dikhawatirkan akan terjadi penurunan produktivitas yang berujung pada melemahnya kesejahteraan petani.
Ancaman Ganoderma Makin Meluas
Jamur Ganoderma dikenal sebagai salah satu penyakit paling berbahaya pada tanaman kelapa sawit. Penyakit ini menyerang sistem perakaran dan batang tanaman sehingga menyebabkan pembusukan serta kematian pohon sawit secara bertahap.
Menurut APKASINDO, serangan Ganoderma dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan tren peningkatan di sejumlah wilayah perkebunan rakyat. Kondisi tersebut menjadi ancaman serius karena hingga kini belum ditemukan metode pengendalian yang benar-benar efektif untuk menghilangkan penyakit tersebut secara menyeluruh.
Akibat serangan Ganoderma, produktivitas tanaman sawit dapat menurun secara signifikan. Dalam kasus tertentu, tanaman bahkan tidak lagi mampu menghasilkan buah sehingga petani harus melakukan peremajaan atau penanaman kembali yang membutuhkan biaya besar.
Bagi petani swadaya, situasi ini menjadi tantangan tersendiri karena keterbatasan modal sering kali membuat proses pengendalian dan peremajaan kebun tidak dapat dilakukan secara optimal.
Harga TBS Kembali Menjadi Keluhan Petani
Selain persoalan penyakit tanaman, APKASINDO juga menyoroti penurunan harga TBS sawit rakyat yang terjadi di sejumlah daerah.
Fluktuasi harga tersebut dinilai tidak selalu sejalan dengan perkembangan harga minyak sawit mentah atau Crude Palm Oil (CPO) di pasar global. Akibatnya, petani kerap berada pada posisi yang dirugikan karena tidak memiliki akses informasi dan mekanisme pasar yang memadai untuk mengetahui pembentukan harga secara transparan.
Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran di kalangan petani karena biaya produksi terus mengalami kenaikan, sementara harga jual hasil panen justru mengalami tekanan.
Bagi petani sawit rakyat, harga TBS yang rendah akan berdampak langsung pada kemampuan mereka untuk melakukan pemeliharaan kebun, pembelian pupuk, hingga pembiayaan tenaga kerja.
Desak Pengaktifan Bursa CPO Nasional
Menyikapi persoalan tersebut, APKASINDO mendesak pemerintah untuk mengaktifkan dan memperkuat peran Bursa CPO Nasional sebagai instrumen pembentukan harga yang lebih transparan dan berkeadilan.
Keberadaan Bursa CPO Nasional dinilai dapat menjadi sarana untuk menciptakan mekanisme perdagangan yang lebih terbuka sehingga seluruh pelaku industri, termasuk petani, memiliki akses terhadap informasi harga yang jelas dan terukur.
Melalui sistem perdagangan yang transparan, diharapkan disparitas harga antara tingkat pabrik dan petani dapat diminimalkan. Selain itu, keberadaan bursa juga diyakini mampu meningkatkan kepercayaan pasar sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai produsen minyak sawit terbesar di dunia.
APKASINDO menilai penguatan tata niaga sawit nasional merupakan langkah strategis untuk menjaga stabilitas industri sekaligus melindungi kepentingan jutaan petani sawit yang bergantung pada sektor tersebut.
Sawit Tetap Menjadi Tulang Punggung Ekonomi
Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi, sektor perkebunan kelapa sawit masih menjadi salah satu kontributor utama bagi perekonomian nasional. Industri ini menyerap jutaan tenaga kerja, menghasilkan devisa negara, serta menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat di berbagai daerah.
Karena itu, APKASINDO berharap pemerintah tidak hanya fokus pada aspek hilirisasi industri sawit, tetapi juga memberikan perhatian yang sama terhadap persoalan yang dihadapi petani di tingkat hulu.
Mulai dari pengendalian penyakit tanaman, ketersediaan pupuk, akses pembiayaan, hingga mekanisme pembentukan harga yang adil dinilai menjadi faktor penting untuk menjaga keberlanjutan industri sawit Indonesia.
Dengan meningkatnya ancaman Ganoderma dan tekanan terhadap harga TBS, APKASINDO menegaskan perlunya langkah konkret dan kebijakan yang berpihak kepada petani agar sektor perkebunan sawit rakyat tetap mampu bertahan dan berkembang di tengah dinamika pasar global yang terus berubah.
(Redaksi Kaltengnews.id)






