SBHE Buktikan Lahan Marginal Bisa Produktif

SBHE Buktikan Lahan Marginal Bisa Produktif

 

KOTAWARINGIN TIMUR, KALTENG — Program peremajaan kelapa sawit di Sungai Bahaur Estate (SBHE), Regional 4 Bumitama Gunajaya Agro (BGA Group), menunjukkan hasil positif. Lahan yang secara agronomis tergolong marginal mampu menghasilkan produktivitas tinggi melalui penerapan budidaya yang terencana dan berkelanjutan.

SBHE berlokasi di Desa Selucing, Kecamatan Cempaga Hulu, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah. Areal perkebunan tersebut mencapai hampir 4.000 hektare yang terbagi dalam enam divisi, mencakup kebun inti dan kebun plasma masyarakat.

Tantangan utama berada pada karakteristik tanah Dystrudepts, yang tergolong marginal dan membutuhkan pengelolaan lebih intensif untuk mengoptimalkan produktivitas tanaman.

Program peremajaan atau replanting mulai dilakukan secara bertahap sejak 2022. Langkah tersebut ditempuh seiring menurunnya produktivitas tanaman yang telah berusia lebih dari dua dekade. Selain faktor usia tanaman, ketinggian tanaman yang mencapai belasan meter turut menjadi pertimbangan karena berpengaruh terhadap efisiensi panen dan keselamatan kerja.

Dalam proses peremajaan, SBHE menerapkan pendekatan budidaya terintegrasi sejak persiapan lahan hingga tanaman memasuki fase menghasilkan. Biomassa tanaman lama dikembalikan ke lahan sebagai bahan organik untuk membantu memperbaiki struktur tanah dan meningkatkan kemampuan tanah menyimpan air.

Perusahaan juga menggunakan varietas unggul berpotensi produksi tinggi serta menerapkan pemupukan berimbang antara pupuk anorganik dan organik. Keberadaan serangga penyerbuk alami turut dijaga sebagai bagian dari pengelolaan ekosistem perkebunan.

Estate Manager SBHE, Ponsius Wiro, menegaskan bahwa keberhasilan peremajaan tidak semata-mata diukur dari seberapa cepat tanaman kembali menghasilkan, tetapi dari kemampuan membangun produktivitas dalam jangka panjang.

“Keberhasilan peremajaan bukan diukur dari seberapa cepat tanaman kembali menghasilkan, melainkan dari kemampuan membangun produktivitas yang berkelanjutan sejak hari pertama tanaman ditanam,” ujar Ponsius.

Hasil awal program tersebut mulai terlihat pada fase scout harvesting atau panen awal. SBHE sebelumnya menargetkan produksi di atas 9 ton per hektare.

Baca Juga :  Sengketa Lahan DPRD Kalteng dan Tugu Soekarno Berlanjut, Ahli Waris Pasang Plang: Klaim Kepemilikan Kembali Mengemuka

Namun, realisasi panen perdana mencapai 12,71 ton per hektare, atau lebih dari 40 persen di atas target yang ditetapkan perusahaan.

Capaian tersebut menjadi indikator awal bahwa keterbatasan karakteristik lahan tidak selalu menjadi penghambat produktivitas apabila ditangani melalui praktik agronomi yang tepat.

Peremajaan juga tidak hanya menyasar kebun inti. Melalui kerja sama dengan koperasi, sejumlah kebun plasma masyarakat ikut mendapatkan program peremajaan, termasuk yang memanfaatkan dukungan Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR).

Model tersebut diharapkan tidak hanya menjaga keberlanjutan produksi kelapa sawit, tetapi juga memperkuat sinergi antara perusahaan dan pekebun serta memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar.

Redaksi Kaltengnews.id menilai capaian SBHE menjadi gambaran bahwa keberhasilan perkebunan sawit tidak semata ditentukan oleh kondisi awal lahan, melainkan juga oleh kualitas perencanaan, teknologi budidaya, pengelolaan tanah, pemilihan varietas, serta konsistensi pemeliharaan dalam jangka panjang.(Red/ig)

 

Admin