Audiensi Koperasi Mitra BGA, Kemitraan dan Karhutla Jadi Fokus

KOTAWARINGIN TIMUR — Penguatan hubungan kemitraan, silaturahmi, kebersamaan serta sinergi dalam pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjadi fokus dalam audiensi Koperasi Mitra BGA Region Mentaya dan Pundu.
Audiensi tersebut dipimpin Eko Budi Purnomo dan Suhendra Padila. Pertemuan menjadi momentum memperkuat komunikasi antara koperasi dan mitra perusahaan, sekaligus membahas berbagai persoalan yang berkaitan dengan kondisi di wilayah kerja.
Turut hadir Samsudin Ekeng, Ketua Koperasi Hapakat, Desa Tanjung Jorong, Kecamatan Tualan Hulu, Kabupaten Kotawaringin Timur. Koperasi Hapakat merupakan mitra PT Karya Makmur Bahagia (KMB).
Dalam audiensi tersebut, para pihak membahas pentingnya menjaga hubungan kemitraan melalui komunikasi yang terbuka dan berkelanjutan.
Kemitraan tidak hanya menyangkut hubungan ekonomi, tetapi juga membutuhkan komunikasi, koordinasi dan kebersamaan agar berbagai persoalan di lapangan dapat dibicarakan secara konstruktif.
Samsudin Ekeng menilai komunikasi menjadi bagian penting dalam menjaga hubungan antara koperasi dan perusahaan.
“Kita ingin hubungan kemitraan terus diperkuat melalui komunikasi dan kebersamaan. Kalau ada persoalan di lapangan, tentu lebih baik dibicarakan bersama untuk mencari solusi,” ujar Samsudin.
Pernyataan tersebut menjadi penegasan bahwa komunikasi antara koperasi dan perusahaan memiliki posisi penting dalam menjaga keberlanjutan hubungan kemitraan.
Selain kemitraan, karhutla menjadi salah satu perhatian dalam audiensi. Isu tersebut dinilai relevan dengan kondisi Kalimantan Tengah yang saat ini menghadapi periode rawan kebakaran.
Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah telah menetapkan Status Tanggap Darurat Bencana Karhutla Tahun 2026 melalui Keputusan Gubernur Nomor 100.3.3.1/230/2026 tertanggal 31 Agustus 2026. Status tersebut berlaku dalam rangka memperkuat penanganan karhutla di tengah meningkatnya kejadian kebakaran.
Bahkan, pada 7 September 2026, pemerintah melibatkan 325 perusahaan pemegang HGU dan PBPH dari sembilan provinsi dalam rapat koordinasi penguatan pencegahan dan penanganan karhutla. Langkah tersebut menekankan pentingnya penyamaan langkah antara pemerintah, aparat penegak hukum dan dunia usaha.
Data pemerintah juga menunjukkan besarnya tantangan karhutla tahun ini. Berdasarkan laporan Posko Penanganan Darurat Bencana Karhutla per 21 Agustus 2026, tercatat 19.992 titik hotspot dan 1.639 kejadian karhutla, dengan luasan terbakar yang telah ditangani tim darat mencapai 4.499,21 hektare.
Dalam konteks wilayah yang menjadi pembahasan, langkah kesiapsiagaan BGA juga telah diberitakan sebelumnya.
Pada Juni 2026, BGA memperkuat kesiapsiagaan karhutla di wilayah operasional Pundu, Kotawaringin dan Mentaya. Upaya tersebut melibatkan pemerintah daerah, Forkopimcam, BPBD, TNI-Polri, Manggala Agni dan tim pemadam internal perusahaan.
BGA juga dilaporkan mendorong pendekatan berbasis masyarakat melalui Program Desa Bebas Api dan pembentukan kelompok Masyarakat Peduli Api (MPA). Pada 2026, program tersebut disebut melibatkan 12 desa di sekitar wilayah operasional perusahaan di Kalimantan Tengah.
Konteks tersebut memperlihatkan bahwa pencegahan karhutla membutuhkan keterlibatan berbagai unsur, termasuk masyarakat yang berada di sekitar wilayah perkebunan.
Koperasi sebagai bagian dari masyarakat yang terlibat dalam hubungan kemitraan juga memiliki posisi strategis dalam membangun komunikasi di tingkat lapangan.
Penguatan kemitraan dapat menjadi ruang untuk menyampaikan kondisi masyarakat, membangun koordinasi dan mendorong penyelesaian persoalan secara dialogis.
Di sisi lain, pencegahan karhutla membutuhkan deteksi dini dan respons cepat. Pemerintah Provinsi Kalteng sebelumnya telah menekankan bahwa strategi pengendalian perlu mengutamakan pencegahan dini dan penguatan sinergi antara pemerintah, TNI-Polri, dunia usaha dan masyarakat.
Bahkan pada September 2026, Dinas Kehutanan Kalteng melaporkan adanya 14 titik karhutla yang dipadamkan pada 6 September 2026. Secara kumulatif, laporan tersebut mencatat 744 kegiatan dengan luasan 286,73 hektare sepanjang 2026 berdasarkan data yang mereka laporkan.
Audiensi Koperasi Mitra BGA Region Mentaya dan Pundu tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai agenda silaturahmi, tetapi dapat ditindaklanjuti melalui komunikasi dan kerja sama yang konkret.
Penguatan kemitraan membutuhkan keterbukaan dari seluruh pihak. Sementara pencegahan karhutla membutuhkan tanggung jawab bersama agar potensi kebakaran dapat ditekan sejak dini.
Dengan komunikasi yang terus terjaga antara koperasi, perusahaan, masyarakat dan pemangku kepentingan lainnya, berbagai persoalan di lapangan diharapkan dapat ditangani secara lebih cepat, proporsional dan konstruktif.
KALTENGNEWS.ID — Cepat, Akurat dan Terpercaya.






