Mentan Kawal Pemulihan Harga TBS, Petani Sawit Mulai Rasakan Dampaknya

JAKARTA – Upaya pemerintah dalam mengawal pemulihan harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit mulai menunjukkan hasil positif. Sejumlah petani dari berbagai daerah mengaku harga TBS yang sempat mengalami penurunan kini berangsur membaik, meski pengawasan dan langkah stabilisasi masih diperlukan agar pemulihan dapat dirasakan secara merata di seluruh sentra perkebunan sawit.
Komitmen tersebut ditegaskan Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, dalam Rapat Koordinasi Pengembangan dan Upaya Stabilisasi Harga TBS Kelapa Sawit yang digelar di Jakarta. Dalam pertemuan itu, pemerintah mengumpulkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari petani, pelaku usaha, eksportir, asosiasi sawit, hingga aparat penegak hukum guna mencari solusi atas gejolak harga yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir.
Mentan menegaskan tidak ada alasan harga TBS di tingkat petani mengalami penurunan ketika harga minyak sawit mentah (CPO) dunia dan nilai tukar dolar AS justru menunjukkan tren penguatan. Pemerintah, kata dia, berkomitmen memastikan petani memperoleh harga yang adil sesuai ketentuan yang berlaku di masing-masing daerah.
Menurut data yang dipaparkan Kementerian Pertanian, sekitar 70 persen harga TBS di berbagai daerah telah mulai pulih. Namun demikian, pemerintah masih menemukan sejumlah perusahaan yang diduga belum menyesuaikan harga pembelian sesuai kondisi pasar dan ketentuan pemerintah daerah. Untuk itu, pengawasan akan terus diperkuat melalui koordinasi dengan Satgas Pangan dan aparat kepolisian.
Di sisi lain, para petani menyampaikan apresiasi atas langkah cepat pemerintah. Perwakilan petani dari Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Lampung hingga sejumlah wilayah lainnya menilai perhatian pemerintah terhadap persoalan harga sawit memberikan harapan baru bagi jutaan petani yang menggantungkan hidup pada komoditas tersebut. Mereka optimistis harga TBS akan kembali stabil seiring meningkatnya permintaan global dan membaiknya harga CPO internasional.
Ketua Umum Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia, Gulat M.E. Manurung, mengungkapkan bahwa pemulihan harga mulai terlihat di berbagai sentra produksi. Berdasarkan pemantauan organisasi tersebut, harga TBS di wilayah Sumatera telah pulih sekitar 80 persen, sementara di Kalimantan mencapai sekitar 70 persen. Meski demikian, masih terdapat persoalan di tingkat pengumpul atau tengkulak yang menyebabkan kenaikan harga belum sepenuhnya dirasakan petani.
APKASINDO mendorong pemerintah untuk menertibkan rantai distribusi yang dinilai masih menyerap margin cukup besar di tingkat perantara. Langkah tersebut dianggap penting agar manfaat kenaikan harga di tingkat pabrik benar-benar sampai kepada petani sebagai pelaku utama sektor perkebunan sawit.
Sementara itu, pemerintah menegaskan perlindungan terhadap petani sawit menjadi prioritas. Berdasarkan data Kementerian Pertanian, terdapat sekitar 15 juta petani sawit yang menggantungkan pendapatan dan kehidupan keluarganya pada komoditas strategis tersebut. Karena itu, pemulihan harga TBS dinilai tidak hanya berdampak pada sektor perkebunan, tetapi juga terhadap perekonomian masyarakat di berbagai daerah sentra sawit nasional.
Dengan berbagai langkah yang tengah dilakukan, pemerintah berharap harga TBS dapat kembali normal bahkan meningkat sejalan dengan pergerakan harga CPO dunia dan penguatan pasar ekspor. Stabilitas harga yang berkelanjutan diharapkan mampu menjaga kesejahteraan petani sekaligus memperkuat kontribusi industri sawit terhadap perekonomian nasional.
**(Redaksi Kaltengnews.id)**






