KARHUTLA MELUAS KE KAWASAN PEMKOT PALANGKA RAYA

KARHUTLA MELUAS KE KAWASAN PEMKOT PALANGKA RAYA

PALANGKA RAYA, KALTENGNEWS.ID – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Jalan Soekarno, Kecamatan Jekan Raya, Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, kembali menjadi perhatian. Kepulan asap tebal terlihat menyelimuti area sekitar kompleks perkantoran Pemerintah Kota (Pemkot) Palangka Raya, memunculkan kekhawatiran terhadap meluasnya kebakaran di kawasan strategis tersebut.

Berdasarkan pemberitaan pada 20–21 Oktober 2026, kebakaran lahan di sekitar kompleks perkantoran Pemkot telah berlangsung selama dua hari. Lokasi titik api dilaporkan berada sekitar 600–700 meter dari jalan utama, sehingga menyulitkan armada pemadam kebakaran menjangkau pusat kebakaran.

Kondisi tersebut membuat penanganan di lapangan membutuhkan upaya ekstra. Asap yang membumbung tinggi di sekitar kawasan perkantoran juga menjadi peringatan serius atas dampak karhutla terhadap lingkungan dan aktivitas masyarakat.

Kepala Pelaksana BPBD Kota Palangka Raya, Hendrikus Satriya Budi, menjelaskan bahwa pihaknya mengerahkan alat berat jenis ekskavator untuk membuka akses menuju titik api sekaligus membuat sekat bakar guna mencegah kebakaran meluas.

“Ekskavator kami kerahkan untuk membuat sekat bakar agar api tidak meluas, sekaligus membuka akses agar mobil pemadam bisa langsung mendekati titik api,” demikian keterangan Hendrikus sebagaimana diberitakan ANTARA pada 21 Oktober 2026.

Sebelum akses dibuka, petugas harus mengandalkan sumber air dari sumur bor warga. Selang pemadam bahkan perlu disambung hingga sekitar 10 rol untuk menjangkau lokasi kebakaran. Jarak yang jauh menyebabkan tekanan air melemah sehingga proses pemadaman tidak maksimal.

Pembukaan akses dan pembuatan sekat bakar menjadi langkah penting untuk mendekatkan armada pemadam ke titik api, mempercepat distribusi air, serta membatasi pergerakan kebakaran agar tidak merambat lebih jauh ke kawasan perkantoran pemerintah.

Persoalan karhutla di Palangka Raya tidak hanya berkaitan dengan kobaran api, tetapi juga asap yang mengganggu kualitas udara dan aktivitas masyarakat.

Pada 20 Oktober 2026, pemberitaan mengenai kondisi kabut asap di Palangka Raya turut menyoroti kawasan Jalan Soekarno dan kompleks perkantoran Pemkot. Asap terlihat menyelimuti area tersebut ketika aktivitas perkantoran masih berlangsung.

Baca Juga :  Rp10 Miliar Dana Karhutla Cair, Pemko Palangka Raya Diminta Transparan

Dalam laporan yang dikutip KGNow dari Kompas.com, data aplikasi Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) Kementerian Lingkungan Hidup disebut mencapai angka 1.290 pada pukul 09.00 WIB, dengan PM2.5 sebagai parameter pencemar. Angka tersebut dilaporkan berada dalam kategori berbahaya. Data ini merujuk pada waktu pengukuran tersebut dan bukan pengukuran langsung kondisi udara saat ini.

Paparan asap karhutla perlu diwaspadai, terutama oleh anak-anak, lansia, serta masyarakat yang memiliki gangguan pernapasan. Warga yang beraktivitas di sekitar lokasi juga perlu memperhatikan kondisi jarak pandang dan mengurangi paparan asap.

Besarnya ancaman karhutla di Palangka Raya tergambar dari data BPBD setempat. ANTARA melaporkan bahwa sejak status siaga darurat karhutla ditetapkan pada 1 Juni hingga 20 Oktober 2026, tercatat 932 kejadian kebakaran dengan total luas lahan terbakar mencapai 1.453,64 hektare.

Kecamatan Jekan Raya mencatat kejadian terbanyak, yakni 571 kejadian. Sementara itu, 83 kejadian tercatat di Pahandut, 185 di Sebangau, 87 di Bukit Batu, dan enam kejadian di Rakumpit.

Angka tersebut memperlihatkan besarnya beban penanganan kebakaran yang harus dihadapi petugas di berbagai wilayah Kota Palangka Raya. Kebakaran di sekitar Jalan Soekarno menjadi perhatian tersendiri karena lokasinya berdekatan dengan kompleks perkantoran pemerintah.

Situasi ini menuntut penanganan yang terkoordinasi, mulai dari pemadaman titik api, pembuatan sekat bakar, pendinginan lahan, hingga pemantauan untuk mengantisipasi munculnya kembali bara di bawah permukaan tanah.

Masyarakat juga diimbau tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar serta segera melaporkan apabila menemukan titik api baru.

Kebakaran di kawasan Jalan Soekarno menjadi pengingat bahwa karhutla bukan sekadar persoalan lahan yang terbakar.  Ketika api dan asap mendekati kawasan perkantoran serta ruang aktivitas masyarakat, kecepatan respons, kesiapan sarana pemadaman, dan pencegahan penyebaran api menjadi sangat penting.

(Red3/sadewaev)

Sadewaev

https://wa.me/6282151085635