Jangan Biarkan Taman Kuliner Sanggomang Mati Suri

Oleh: NONO SUYATNO, SE (Pengusaha)
PALANGKA RAYA – Sebuah kota yang berkembang tidak hanya diukur dari megahnya infrastruktur atau tingginya gedung pencakar langit, tetapi juga dari kemampuannya menghadirkan ruang publik yang hidup, produktif, dan menjadi identitas masyarakatnya. Dalam konteks Kota Palangka Raya, salah satu ruang publik yang memiliki potensi besar untuk berkembang menjadi ikon ekonomi kreatif dan wisata kuliner adalah Taman Kuliner Tunggal Sanggomang di Jalan Yos Sudarso.
Penetapan kepengurusan Paguyuban Pedagang Kuliner Tunggal Sanggomang (P2KTS) Kota Palangka Raya masa bakti 2026-2031 melalui Surat Keputusan Pelaksana Tugas Kepala Dinas Perdagangan, Koperasi, UKM dan Perindustrian Kota Palangka Raya Nomor 750/21/DPKUKMP/DAG.1/VI/2026, seyogianya tidak hanya dimaknai sebagai agenda administratif semata. Lebih dari itu, momentum tersebut harus menjadi titik awal kebangkitan kembali kawasan kuliner yang selama ini menjadi bagian penting dari denyut ekonomi kerakyatan di Kota Cantik.
Sebagai Koordinator Bidang Kebersihan dan Keindahan P2KTS periode 2026-2031, saya memandang bahwa Taman Kuliner Tunggal Sanggomang sesungguhnya memiliki modal besar untuk menjadi ikon wisata kuliner Kota Palangka Raya. Lokasinya yang strategis, berada di salah satu ruas jalan protokol kota, merupakan aset yang tidak dimiliki oleh semua kawasan kuliner.
Namun, realitas yang terlihat hari ini menunjukkan bahwa potensi tersebut belum dikelola secara optimal. Bahkan, tidak sedikit masyarakat yang menilai keberadaan Taman Sanggomang saat ini seolah mengalami kondisi “mati suri” akibat minimnya perhatian, penataan, dan pengembangan secara berkelanjutan.
“Dalam penerapannya saat ini, kondisi Taman Kuliner Tunggal Sanggomang masih memerlukan pembenahan, terutama terkait tata kelola kebersihan. Fasilitas MCK juga perlu mendapat perhatian khusus agar pengunjung merasa nyaman.”
Pernyataan tersebut bukan sekadar kritik, melainkan bentuk kepedulian terhadap aset daerah yang sesungguhnya memiliki nilai ekonomi, sosial, dan budaya yang besar. Kebersihan merupakan wajah pertama sebuah destinasi wisata. Sulit membayangkan sebuah kawasan kuliner mampu berkembang apabila fasilitas dasarnya belum dikelola secara maksimal.
Hingga saat ini, Kota Palangka Raya belum memiliki kawasan kuliner terpadu yang benar-benar menjadi identitas kota. Padahal, Taman Sanggomang memiliki seluruh prasyarat untuk tumbuh menjadi destinasi kuliner unggulan, baik bagi masyarakat lokal maupun wisatawan dari luar daerah.
“Tempat kuliner di Kota Palangka Raya saat ini belum ada yang benar-benar khusus dan menjadi ikon. Padahal, Taman Sanggomang secara letak berada di kawasan strategis jalan protokol Kota Palangka Raya. Seharusnya kawasan ini bisa dibuat lebih menarik agar mampu mendatangkan lebih banyak pengunjung.”
Tentunya, upaya membangkitkan kembali Taman Sanggomang tidak dapat dibebankan kepada satu pihak saja. Dibutuhkan sinergi antara pemerintah daerah, pengelola kawasan, para pelaku UMKM, serta masyarakat secara luas. Semua pihak harus memiliki kesadaran yang sama bahwa kawasan ini bukan sekadar tempat berjualan, melainkan sebuah ruang ekonomi kreatif yang dapat menjadi kebanggaan Kota Palangka Raya.
Berbagai pembenahan mendasar perlu segera dilakukan, mulai dari peningkatan kebersihan lingkungan, revitalisasi fasilitas umum, penataan estetika kawasan, penambahan lampu hias, hingga perbaikan penerangan jalan yang saat ini masih menjadi keluhan masyarakat.
“Pengelola kuliner apabila hal itu untuk kebaikan dan keindahan lingkungan Taman Sanggomang, saya yakin pasti akan mendukung sepenuhnya.”
Selain aspek fisik, kawasan ini juga perlu dihidupkan melalui berbagai kegiatan budaya dan hiburan yang melibatkan masyarakat. Selama ini, berbagai kegiatan publik masih terpusat di kawasan Bundaran Besar, sementara Taman Sanggomang yang memiliki ruang terbuka cukup representatif belum dimanfaatkan secara optimal.
Bayangkan apabila setiap akhir pekan digelar pertunjukan seni budaya Dayak, musik tradisional, pertunjukan UMKM kreatif, hingga festival kuliner lokal di kawasan ini. Tidak hanya akan meningkatkan jumlah kunjungan masyarakat, tetapi juga akan memperkuat identitas budaya sekaligus menggerakkan roda perekonomian rakyat.
“Pemerintah daerah perlu mempertimbangkan penyelenggaraan event-event budaya di Taman Sanggomang. Jangan hanya terpusat di Bundaran Besar. Jika malam hari ada pertunjukan budaya di kawasan ini, tentu akan menambah aktivitas ekonomi masyarakat.”
Persoalan penerangan jalan juga menjadi perhatian penting. Banyak lampu penerangan yang tidak berfungsi sehingga memengaruhi kenyamanan dan rasa aman pengunjung, khususnya pada malam hari.
“Lampu-lampu jalan harus diperhatikan. Saat ini masih banyak yang mati dan belum diganti. Hal-hal kecil seperti ini sebenarnya sangat mempengaruhi kenyamanan dan keamanan pengunjung.”
Pada akhirnya, pengelolaan kawasan kuliner tidak boleh semata-mata dipandang sebagai objek penarikan retribusi atau sewa tempat usaha. Pemerintah daerah bersama seluruh pemangku kepentingan harus mampu menjadikan kawasan tersebut sebagai pusat pertumbuhan ekonomi yang memberikan kontribusi nyata terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD), sekaligus membuka lapangan pekerjaan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Artinya, jangan hanya bisa menagih sewa tempat, tetapi bagaimana kawasan tersebut benar-benar hadir dan mampu menjadi sumber PAD Kota Palangka Raya.”
Harapan kami sederhana, tetapi memiliki makna besar bagi masa depan Kota Palangka Raya. Taman Kuliner Tunggal Sanggomang harus dibangkitkan kembali, ditata, diperindah, dan dikembangkan menjadi ikon wisata kuliner yang membanggakan masyarakat Kalimantan Tengah.
“Harapan kami, Taman Kuliner Sanggomang bisa menjadi ikon kuliner bagi masyarakat Kota Palangka Raya, sekaligus menjadi destinasi bagi tamu-tamu dari luar daerah maupun tingkat nasional.”
Sudah saatnya Taman Sanggomang tidak lagi dipandang sekadar sebagai tempat berjualan, melainkan sebagai wajah kuliner, budaya, dan ekonomi kreatif Kota Palangka Raya di masa depan. Sebab, kota yang maju adalah kota yang mampu merawat, mengembangkan, dan membanggakan ruang-ruang publiknya sendiri.(Red/ig)






