Petrus P Geger: Karhutla Kalteng Ancam Ekonomi, Kesehatan & Pendidikan

Oleh: Petrus P Geger
Aktivis Sosial & Wakil Pimpinan Redaksi Media Online Kaltengnews.id
PALANGKA RAYA — Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kalimantan Tengah bukan lagi persoalan musiman yang cukup diselesaikan ketika api membesar. Dampaknya jauh lebih luas, mulai dari kesehatan masyarakat, aktivitas ekonomi hingga terganggunya pendidikan anak-anak.
Kabut asap dapat membatasi aktivitas masyarakat dan menekan pendapatan pekerja harian serta pelaku UMKM. Di sektor pendidikan, kualitas udara yang buruk dapat memaksa sekolah mengurangi kegiatan luar ruangan bahkan menerapkan pembelajaran jarak jauh.
Menurut saya, pemerintah harus mengubah pola penanganan Karhutla dari sekadar pemadaman menjadi pencegahan. Deteksi dini hotspot perlu diperkuat, masyarakat desa diberdayakan sebagai garda terdepan, tata kelola lahan gambut diperbaiki, dan penegakan hukum terhadap pelanggaran pembakaran harus dilakukan secara konsisten serta berkeadilan.
Pemerintah juga perlu memiliki protokol permanen perlindungan kesehatan dan pendidikan ketika kualitas udara memasuki kategori tidak sehat. Masyarakat harus mendapatkan informasi kualitas udara secara cepat dan mudah dipahami, sehingga dapat mengambil langkah perlindungan, terutama bagi anak-anak, lansia, serta kelompok rentan.
Karhutla bukan hanya soal berapa hektare lahan yang terbakar. Yang harus diperhitungkan adalah berapa banyak masyarakat terdampak, berapa besar kerugian ekonomi, berapa banyak anak kehilangan waktu belajar, serta seberapa besar kerusakan lingkungan yang diwariskan kepada generasi berikutnya.
Dari sisi ekonomi, dampak Karhutla dapat dirasakan oleh berbagai lapisan masyarakat. Aktivitas perdagangan, usaha kecil, pekerja lapangan dan sektor jasa dapat ikut terganggu ketika masyarakat mengurangi aktivitas di luar rumah akibat kualitas udara yang buruk.
Sementara dari sisi kesehatan, paparan asap dapat mengganggu sistem pernapasan dan memperburuk kondisi masyarakat yang memiliki kerentanan tertentu. Karena itu, penanganan Karhutla seharusnya tidak hanya berorientasi pada luas lahan yang berhasil dipadamkan, tetapi juga pada seberapa efektif pemerintah melindungi masyarakat dari dampaknya.
Menurut hemat saya, pemerintah perlu membangun sistem penanganan Karhutla yang lebih terintegrasi. Pencegahan harus dimulai sebelum musim kemarau mencapai puncaknya, bukan setelah kabut asap menyelimuti permukiman.
Pengawasan kawasan rawan, pemantauan hotspot, kesiapan personel dan peralatan, pengelolaan gambut, edukasi masyarakat serta penegakan hukum harus berjalan secara bersamaan.
Pemerintah juga perlu melibatkan masyarakat secara aktif. Warga di wilayah rawan Karhutla bukan sekadar objek kebijakan, tetapi dapat menjadi bagian penting dari sistem deteksi dini dan pencegahan kebakaran.
Kalteng membutuhkan strategi penanganan Karhutla jangka panjang. Jangan sampai setiap tahun kita hanya menunggu hujan untuk memadamkan api, sementara akar persoalannya tidak pernah benar-benar diselesaikan.
Karhutla pada akhirnya bukan hanya persoalan api.
Karhutla adalah persoalan kesehatan, ekonomi, pendidikan, lingkungan dan masa depan masyarakat Kalimantan Tengah.
Karena itu, sudah saatnya penanganan Karhutla dilakukan secara lebih serius, terukur dan berkelanjutan. Jangan biarkan generasi berikutnya mewarisi persoalan yang sama setiap musim kemarau.
Petrus P Geger
Aktivis Sosial & Wakil Pimpinan Redaksi Media Online Kaltengnews.id






