Karhutla Berdampak pada Petani Lokal, Kebon Pedia Keluhkan Tanaman Layu hingga Mati

Karhutla Berdampak pada Petani Lokal, Kebon Pedia Keluhkan Tanaman Layu hingga Mati

PALANGKA RAYA, KALTENGNEWS.ID – Dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kota Palangka Raya tidak hanya dirasakan masyarakat akibat paparan kabut asap. Para petani lokal yang beraktivitas di kawasan lahan gambut juga menghadapi dampak serius terhadap keberlangsungan usaha pertanian mereka.

Dalam investigasi langsung yang dilakukan Redaksi 3 Kaltengnews.id pada Minggu (25/10/2026), tim menemui seorang petani lokal yang dikenal dengan nama Kebon Pedia, yang lokasi aktivitas pertaniannya berada di sekitar kawasan yang kerap mengalami kebakaran hutan dan lahan.

Dalam kesempatan tersebut, Kebon Pedia memperlihatkan secara langsung aktivitas pertanian di lahan gambut sekaligus menjelaskan berbagai kesulitan yang dihadapi sejak terjadinya karhutla.

Ia menyayangkan keterlambatan langkah mitigasi dari pemerintah dalam upaya mencegah dan menangani kebakaran hutan dan lahan. Menurutnya, dampak karhutla tidak hanya mengancam manusia, hewan, dan tumbuhan, tetapi juga memengaruhi kondisi lahan serta produktivitas pertanian.

Salah satu dampak yang dirasakan adalah kondisi tanaman yang mengalami kekeringan. Daun-daun tanaman mulai layu, mengering, bahkan sebagian tanaman tidak mampu bertahan dan akhirnya mati akibat kondisi panas yang ekstrem serta sulitnya mempertahankan kelembapan lahan.

Kondisi tersebut membuat petani harus mengeluarkan tenaga dan upaya lebih besar untuk menjaga tanaman agar tetap hidup. Pembasahan lahan, pemeliharaan kelembapan tanah, hingga perawatan tanaman menjadi pekerjaan tambahan yang harus dilakukan secara intensif.

Sebagai petani, Kebon Pedia mengaku harus bekerja lebih keras untuk mempertahankan kesuburan tanaman.

“Bukan hanya makhluk hidup yang terkena dampak karhutla. Sebagai petani, kami juga merasakan beratnya menjaga kesuburan tanaman, melakukan pembasahan lahan, serta perawatan yang membutuhkan tenaga dua kali lebih ekstra dari biasanya,” jelas Kebon Pedia.

Dampak tersebut memperlihatkan bahwa persoalan karhutla tidak semata-mata berkaitan dengan kebakaran dan kabut asap. Lebih jauh, kondisi ini turut mengancam keberlangsungan sektor pertanian serta penghidupan masyarakat yang menggantungkan ekonomi pada pengelolaan lahan.

Baca Juga :  Konten “Duet Maut Bapak dan Anak” Viral, Akun @kaltengkeras dan Sosok Berinisial HM Disorot

Pengalaman Kebon Pedia menjadi gambaran nyata tantangan yang dihadapi petani lokal di tengah ancaman karhutla. Karena itu, langkah pencegahan, mitigasi dini, pembasahan kawasan rawan kebakaran, serta penanganan yang cepat dan terukur menjadi hal penting untuk diperhatikan pemerintah.

Jika tidak ditangani secara serius, dampak karhutla berpotensi terus meluas, bukan hanya merusak lingkungan, tetapi juga mengancam produktivitas pertanian dan ketahanan ekonomi masyarakat lokal.

Di sisi lain, Kebonpedia juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada pemerintah, petugas pemadam kebakaran, TNI-Polri, para relawan, serta seluruh pihak yang telah bekerja keras dalam upaya pemadaman dan pencegahan meluasnya karhutla. Dedikasi mereka, khususnya yang turun langsung menghadapi medan berat dan risiko di lapangan, merupakan bentuk kepedulian nyata terhadap keselamatan masyarakat dan kelestarian lingkungan.

Kebonpedia berharap kerja keras tersebut terus mendapat dukungan melalui penguatan langkah pencegahan dan mitigasi sejak dini, sehingga penanganan karhutla tidak hanya berfokus pada pemadaman saat kebakaran terjadi, tetapi juga pada upaya bersama mencegah kejadian serupa terulang.

Kaltengnews.id – Redaksi 3 (Red3//sadewaev)

Dokumentasi investigasi langsung: Aktivitas keseharian petani lokal yang turut merasakan dampak karhutla di kawasan lahan gambut Kota Palangka Raya.

Sadewaev

https://wa.me/6282151085635