KALTENGNEWS.ID, KOTAWARINGIN TIMUR – Jejak sejarah Tamanggung Singam masih menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat Dayak di wilayah hulu Kampung Sebungsu, Kecamatan Tualan Hulu, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah.

Kawasan bersejarah tersebut berada di sekitar Sungai Tasang yang bermuara ke Sungai Tualan. Lokasi ini dikenal dengan sebutan Kaleka Pantar, yang menurut penuturan masyarakat berkaitan dengan keberadaan Kaleka Betang Tamanggung Singam.

Dalam tradisi masyarakat adat Dayak, kaleka dikenal sebagai kawasan bekas permukiman leluhur yang memiliki nilai historis dan budaya. Kawasan semacam ini berpotensi menyimpan jejak kehidupan generasi terdahulu, sekaligus menjadi pengingat perjalanan sejarah dan asal-usul masyarakat setempat.

Keberadaan Kaleka Pantar menjadi salah satu penanda penting dalam penelusuran sejarah Tamanggung Singam. Penyebutan Kaleka Betang Tamanggung Singam yang masih dikenal masyarakat menunjukkan adanya ingatan turun-temurun mengenai tokoh tersebut dan kawasan yang dikaitkan dengannya.

Namun, penelusuran sejarah leluhur tidak cukup hanya bertumpu pada cerita lisan. Dokumentasi, penelusuran peninggalan, keterangan para tetua adat, serta pencatatan silsilah keluarga menjadi bagian penting untuk memperkuat informasi sejarah agar dapat diwariskan secara bertanggung jawab kepada generasi berikutnya.

TMG Leger Toegal Kunum, Keturunan Generasi Keempat

Dalam keterangan silsilah keluarga, TMG Leger Toegal Kunum disebut sebagai keturunan asli generasi keempat dari Tamanggung Singam.

Saat ini, TMG Leger Toegal Kunum menjabat sebagai Damang Kepala Adat Kecamatan Tualan Hulu, Kabupaten Kotawaringin Timur.

Baca Juga :  Damang Tualan Hulu Ucapkan Selamat HUT ke-16 GERDAYAK Indonesia

Kedudukannya dalam kelembagaan adat menjadikan keterangan mengenai silsilah dan sejarah leluhur sebagai bagian yang penting untuk didokumentasikan, dengan tetap mengacu pada bukti dan sumber sejarah yang dapat ditelusuri.

Penelusuran silsilah ini bukan hanya berkaitan dengan hubungan kekerabatan, tetapi juga menyangkut upaya memahami kesinambungan sejarah, kepemimpinan adat, dan identitas masyarakat Dayak di wilayah Tualan Hulu.

Sejarah leluhur bukan sekadar cerita masa lalu. Di dalamnya terdapat identitas, nilai budaya, serta ingatan kolektif yang membentuk jati diri masyarakat adat.

Kaleka Pantar dan kisah Tamanggung Singam menjadi bagian dari warisan yang perlu ditelusuri, dicatat, dan diperkenalkan kepada generasi muda. Upaya tersebut penting agar sejarah lokal tidak hilang seiring perubahan zaman dan pergantian generasi.

Dokumentasi sejarah melalui wawancara dengan tetua adat, penelusuran silsilah keluarga, serta pencatatan lokasi dan peninggalan yang masih dikenal masyarakat dapat menjadi langkah awal untuk menyusun catatan sejarah yang lebih utuh.

Dengan demikian, penelusuran jejak Tamanggung Singam di Kaleka Pantar bukan hanya mengenang tokoh leluhur, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan sejarah dan kebudayaan Dayak di Kalimantan Tengah.

Warisan leluhur tidak cukup hanya dikenang, tetapi perlu ditelusuri, didokumentasikan, dan diwariskan agar tetap hidup dalam ingatan generasi mendatang.  (Red3/sadewaev)

Sadewaev

https://wa.me/6282151085635