GAPKI Perluas Pasar Sawit ke Eurasia, Teken MoU Strategis dengan Asosiasi Minyak Nabati Rusia

MOSKOW, KALTENGNEWS.ID – Upaya memperluas pasar ekspor minyak sawit Indonesia ke kawasan Eurasia terus diperkuat. Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) resmi menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) dengan The Fat and Oil Union of Russia serta Association of Enterprises of Fat and Oil Industry of the Eurasian Economic Union (EAEU) sebagai langkah strategis membangun kemitraan jangka panjang di sektor minyak nabati.
Penandatanganan kerja sama yang berlangsung di Moskow tersebut menjadi salah satu tonggak penting dalam memperkuat hubungan dagang Indonesia dan Rusia, sekaligus membuka peluang lebih besar bagi industri sawit nasional untuk menembus pasar negara-negara anggota Eurasian Economic Union (EAEU).
Ketua Umum GAPKI, Eddy Martono, mengatakan nota kesepahaman tersebut tidak hanya berorientasi pada peningkatan perdagangan, tetapi juga mencakup pengembangan investasi, inovasi, pertukaran informasi, hingga penguatan daya saing industri minyak nabati kedua negara.
“Nota Kesepahaman ini merupakan langkah strategis untuk memperkuat kemitraan jangka panjang antara industri minyak nabati Indonesia dan Rusia. Kolaborasi yang lebih erat akan membuka peluang perdagangan, investasi, inovasi, memperluas akses pasar, serta meningkatkan daya saing industri minyak nabati kedua negara,” ujar Eddy Martono dalam keterangannya.
Penandatanganan MoU tersebut turut disaksikan oleh Duta Besar Republik Indonesia untuk Federasi Rusia dan Belarus, Jose Antonio Morato Tavares, jajaran KBRI Moskow, Atase Perdagangan, serta perwakilan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP). Kehadiran para pemangku kepentingan menunjukkan dukungan pemerintah terhadap perluasan akses pasar komoditas strategis Indonesia di kawasan Eurasia.
Kerja sama ini merupakan bagian dari rangkaian agenda GAPKI di Rusia pada 6–10 Juli 2026. Sebelum penandatanganan MoU, delegasi GAPKI mengikuti INNOPROM 2026 di Yekaterinburg, pameran industri internasional terbesar di Rusia yang mempertemukan pemerintah, pelaku usaha, investor, serta asosiasi industri dari berbagai negara.
Dalam forum internasional bertajuk “Palm Oil and the Future of Sustainable Energy: Balancing Climate Goals, Energy Security and Economic Development”, Kepala Bidang Luar Negeri GAPKI Fadhil Hasan memaparkan peran strategis minyak sawit sebagai komoditas yang mampu mendukung ketahanan energi global sekaligus meningkatkan daya saing industri.
Menurut GAPKI, industri sawit Indonesia saat ini tidak hanya menjadi penyumbang devisa terbesar dari sektor perkebunan, tetapi juga berperan penting dalam penyediaan bahan baku pangan, energi terbarukan, hingga berbagai produk oleokimia yang dibutuhkan pasar dunia. Karena itu, diversifikasi pasar ekspor menjadi strategi penting untuk menjaga keberlanjutan industri sawit nasional di tengah dinamika perdagangan global.
Kawasan Eurasia dinilai memiliki potensi besar sebagai pasar baru bagi produk minyak sawit Indonesia. Selain jumlah penduduk yang besar, kawasan tersebut juga membutuhkan pasokan minyak nabati untuk memenuhi kebutuhan industri pangan, kosmetik, hingga energi.
Melalui kemitraan strategis ini, Indonesia diharapkan mampu memperluas penetrasi pasar sekaligus memperkuat posisi sebagai produsen minyak sawit terbesar di dunia. Kerja sama tersebut juga membuka peluang kolaborasi dalam pengembangan teknologi, pertukaran informasi industri, peningkatan standar mutu produk, hingga investasi bersama di sektor hilir minyak nabati.
Langkah GAPKI ini sejalan dengan upaya pemerintah Indonesia memperluas akses perdagangan internasional melalui penguatan hubungan ekonomi dengan Rusia dan negara-negara anggota Eurasian Economic Union (EAEU), sehingga diharapkan mampu meningkatkan nilai ekspor, memperkuat daya saing produk sawit nasional, serta memberikan dampak positif bagi perekonomian Indonesia secara keseluruhan. (Red/ig)
Redaksi: Kaltengnews.id






