Nobar Piala Dunia, Mesin Baru Penggerak Ekonomi Daerah

JAKARTA, Kaltengnews.id – Pemerintah pusat melihat Piala Dunia FIFA 2026 bukan sekadar pesta sepak bola dunia. Di balik euforia jutaan penggemar, terdapat peluang ekonomi yang dinilai mampu menggerakkan sektor usaha lokal hingga meningkatkan aktivitas ekonomi masyarakat di daerah.
Atas dasar itu, Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian menerbitkan Surat Edaran Nomor 400.2.7/4657/SJ yang mengimbau pemerintah daerah memfasilitasi dan menginisiasi kegiatan nonton bareng (nobar) Piala Dunia 2026 di wilayah masing-masing.
Kebijakan tersebut menjadi langkah yang tidak biasa. Untuk pertama kalinya, pemerintah secara khusus mendorong pemerintah daerah menjadikan agenda nobar sebagai instrumen penggerak ekonomi sekaligus sarana hiburan publik.
Dari Hiburan Menjadi Aktivitas Ekonomi
Dalam rapat koordinasi pengendalian inflasi daerah yang digelar di Jakarta, Tito menegaskan bahwa pemerintah daerah dapat memanfaatkan momentum Piala Dunia dengan menyiapkan ruang publik dan lokasi strategis untuk kegiatan nobar. Ia bahkan meminta kepala daerah menerbitkan kebijakan turunan hingga tingkat kecamatan dan desa agar pelaksanaan nobar berjalan luas dan terorganisasi.
“Piala Dunia ini momentum bagi kita, pemerintah pusat maupun seluruh pemerintah daerah untuk memberikan hiburan sehat bagi masyarakat,” kata Tito Karnavian.
Menurut Mendagri, ketika masyarakat berkumpul dalam satu lokasi untuk menyaksikan pertandingan, akan muncul aktivitas ekonomi yang berdampak langsung pada pedagang kecil, pelaku UMKM, sektor kuliner, hingga jasa pendukung lainnya.
Logikanya sederhana. Semakin banyak masyarakat yang hadir dalam sebuah kegiatan publik, semakin besar pula transaksi ekonomi yang tercipta.
Potensi Triliunan Rupiah
Optimisme pemerintah bukan tanpa dasar.
Direktur Utama TVRI, Tubagus Fiki Chikara Satari, mengungkapkan hasil simulasi ekonomi yang menunjukkan bahwa kegiatan nobar Piala Dunia berpotensi menghasilkan perputaran ekonomi hingga Rp2,34 triliun selama penyelenggaraan turnamen. Nilai tersebut setara dengan sekitar Rp46,91 miliar setiap malam.
Perhitungan itu didasarkan pada asumsi:
- 5.864 lokasi nobar aktif di seluruh Indonesia.
- Sekitar 50 malam pelaksanaan.
- Keterlibatan rata-rata empat UMKM pada setiap lokasi.
Jika skenario tersebut terealisasi, maka ribuan pelaku usaha kecil dapat memperoleh manfaat langsung dari meningkatnya aktivitas masyarakat selama gelaran Piala Dunia berlangsung.
“Kalau semuanya aktif, ini semuanya akan luar biasa,” ujar Tubagus Fiki Chikara Satari.
Peluang Besar bagi UMKM
Di banyak daerah, kegiatan nobar selama ini terbukti mampu menarik kerumunan masyarakat. Kehadiran penonton biasanya diikuti peningkatan penjualan makanan, minuman, produk kreatif, hingga jasa parkir.
Bagi daerah yang memiliki pusat kuliner, taman kota, ruang terbuka publik, atau kawasan wisata, nobar dapat menjadi magnet baru yang mendatangkan pengunjung.
Kebijakan Mendagri ini secara tidak langsung membuka peluang bagi pemerintah daerah untuk mengintegrasikan kegiatan olahraga dengan pemberdayaan ekonomi rakyat.
UMKM yang selama ini bergantung pada pasar tradisional atau pelanggan tetap berpotensi memperoleh pasar baru dari kegiatan-kegiatan komunal semacam ini.
Pemda Diminta Jamin Keamanan
Meski berorientasi pada hiburan dan ekonomi, pemerintah menegaskan bahwa pelaksanaan nobar harus tetap memperhatikan aspek keamanan dan ketertiban.
Dalam surat edarannya, Mendagri meminta kepala daerah berkoordinasi dengan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) guna memastikan kegiatan berlangsung aman, tertib, dan nyaman bagi masyarakat. Dukungan yang dimaksud mencakup pengaturan lalu lintas, kebersihan, sarana pendukung, hingga aspek teknis lainnya.
Langkah ini dinilai penting karena kegiatan yang melibatkan massa dalam jumlah besar berpotensi menimbulkan kepadatan kendaraan maupun gangguan ketertiban apabila tidak dikelola dengan baik.
Momentum Persatuan
Di luar aspek ekonomi, Piala Dunia juga memiliki dimensi sosial yang kuat.
Nobar sering menjadi ruang interaksi lintas kelompok masyarakat. Perbedaan usia, profesi, latar belakang sosial hingga pilihan klub sepak bola melebur dalam satu suasana kebersamaan.
Karena itu, pemerintah memandang kegiatan ini tidak hanya menghasilkan transaksi ekonomi, tetapi juga memperkuat kohesi sosial dan ruang publik yang sehat bagi masyarakat.
Catatan Kaltengnews.id
Kebijakan Mendagri mengimbau daerah memfasilitasi nobar Piala Dunia 2026 menunjukkan perubahan cara pandang pemerintah dalam melihat sebuah peristiwa olahraga global. Piala Dunia tidak lagi diposisikan semata sebagai tontonan, melainkan sebagai instrumen ekonomi yang dapat memberikan dampak langsung kepada masyarakat.
Namun keberhasilan kebijakan ini akan sangat bergantung pada kreativitas pemerintah daerah dalam mengelola ruang publik, memberdayakan UMKM, dan menjaga keamanan kegiatan.
Jika dijalankan secara optimal, nobar Piala Dunia berpotensi menjadi salah satu penggerak ekonomi rakyat yang sederhana, murah, namun memiliki efek berantai yang luas bagi daerah.
Ketika sepak bola menjadi magnet massa, ekonomi lokal berpeluang ikut mencetak gol kemenangan.
Redaksi Kaltengnews.id






