Indonesia Jadi Negara Pertama Terapkan Teknologi Adepidyn untuk Budidaya Padi

Indonesia Jadi Negara Pertama Terapkan Teknologi Adepidyn untuk Budidaya Padi

Jakarta, Kaltengnews.id – Indonesia menjadi negara pertama di dunia yang menerapkan teknologi Adepidyn untuk budidaya padi melalui peluncuran fungisida MIRAVIS Duo oleh Syngenta Indonesia. Teknologi ini diperkenalkan sebagai upaya mendukung peningkatan produktivitas pertanian sekaligus memperkuat program swasembada beras nasional.

Presiden Direktur Syngenta Indonesia, Eryanto, mengatakan MIRAVIS Duo merupakan fungisida berbasis teknologi Adepidyn yang dirancang untuk membantu petani mengendalikan penyakit tanaman secara lebih efektif. Produk tersebut diklaim mampu menjaga kesehatan tanaman, meningkatkan kualitas pertumbuhan, serta mendukung potensi hasil panen yang lebih tinggi.

Menurutnya, teknologi Adepidyn memberikan perlindungan terhadap penyakit tanaman bahkan dalam kondisi cuaca yang tidak menentu. Selain itu, teknologi tersebut disebut memiliki daya tahan terhadap hujan dengan masa perlindungan hingga 14 hari setelah aplikasi.

Peluncuran teknologi tersebut dilakukan di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, yang dikenal sebagai salah satu sentra produksi padi terbesar di Indonesia. Pemilihan lokasi itu dinilai strategis mengingat peran penting daerah tersebut dalam mendukung ketahanan pangan nasional.

Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian Kabupaten Cilacap, Cicik Setyorini, menyambut baik hadirnya inovasi tersebut. Menurutnya, teknologi perlindungan tanaman dapat membantu petani mengelola risiko serangan penyakit yang semakin kompleks akibat perubahan cuaca.

Baca Juga :  Pengusaha dan Petani Sepakat Pulihkan Harga TBS Sawit, Pemerintah Siap Tindak Perusahaan yang Membandel

Ia berharap penerapan teknologi dilakukan sesuai rekomendasi agar mampu meningkatkan produktivitas dan kualitas hasil panen secara berkelanjutan.

Data yang disampaikan dalam kegiatan peluncuran menyebutkan Kabupaten Cilacap memiliki perkiraan produksi mencapai 855.042 ton Gabah Kering Giling (GKG). Pada 2025, daerah tersebut juga mencatat surplus beras lebih dari 321 ribu ton sehingga menjadi salah satu lumbung pangan penting di Indonesia.

Sejumlah petani yang telah mencoba teknologi tersebut melalui lahan percontohan mengaku melihat perubahan pada tanaman padi, mulai dari kondisi gabah yang lebih baik hingga peningkatan hasil panen dibanding musim sebelumnya. Namun demikian, efektivitas teknologi dalam skala yang lebih luas masih akan bergantung pada penerapan di berbagai daerah dan kondisi budidaya yang berbeda.

Setelah diperkenalkan di Cilacap, Syngenta Indonesia berencana memperluas pengenalan MIRAVIS Duo ke sejumlah wilayah sentra produksi beras lainnya di Indonesia. Langkah ini diharapkan dapat mendukung upaya peningkatan produktivitas pertanian dan memperkuat ketahanan pangan nasional.

Editor: Kaltengnews.id
Sumber: Antara, Liputan6, dan keterangan resmi terkait.

Admin

Tinggalkan Balasan