Polri Perkuat Teknologi dan Rekayasa Tata Air Hadapi Karhutla Kalteng

Polri Perkuat Teknologi dan Rekayasa Tata Air Hadapi Karhutla Kalteng

PALANGKA RAYA, Kaltengnews.id – Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah memasuki fase yang membutuhkan respons cepat dan strategi yang lebih terukur. Polri memperkuat operasi di lapangan dengan menggabungkan pengerahan personel, teknologi pemantauan, kendaraan khusus hingga rekayasa tata air pada kawasan gambut.

Langkah tersebut disampaikan Wakapolri Komjen Dedi Prasetyo saat meninjau langsung Posko Induk Penanganan Karhutla Polda Kalteng di Palangka Raya, Jumat (11/9/2026).

Menurut Dedi, penanganan karhutla tidak cukup hanya mengandalkan pemadaman ketika api sudah membesar. Kondisi lahan gambut dan cuaca ekstrem membutuhkan strategi pencegahan sekaligus pemadaman yang dilakukan secara terpadu.

“Usaha maksimal wajib dilaksanakan. Karena ini merupakan tanggung jawab bersama,” tegas Dedi dalam keterangannya, Sabtu (12/9/2026).

Dalam operasi tersebut, Polri mengoptimalkan sejumlah sarana, antara lain 12 kendaraan double cabin bertangki, 14 sepeda motor modifikasi dan satu unit ATV untuk menjangkau lokasi yang sulit dilalui kendaraan biasa.

Teknologi juga digunakan untuk mempercepat deteksi. Salah satunya melalui drone thermal yang mampu membantu menemukan sumber panas di tengah kondisi asap atau lokasi yang sulit dipantau secara kasatmata.

Rekayasa Tata Air Jadi Kunci

Selain mengejar titik api, perhatian diarahkan pada kondisi lahan gambut. Rekayasa tata air dilakukan melalui penyekatan kanal, pengisian kembali air, pembangunan sumur bor dan embung.

Polri mencatat terdapat 220 sumur bor dan 104 embung air yang menjadi bagian dari infrastruktur mitigasi karhutla di Kalteng.

Baca Juga :  Petrus P Geger: Karhutla Kalteng Ancam Ekonomi, Kesehatan & Pendidikan

Strategi ini dinilai penting karena kondisi gambut yang terlalu kering membuat api lebih mudah menjalar dan sulit dipadamkan hingga ke lapisan bawah tanah.

Di sisi lain, kondisi cuaca juga menjadi tantangan. Polri menyebut Kalteng menghadapi periode El Nino yang kuat dengan tingkat kekeringan yang meningkat pada Agustus-September 2026.

Tekanan Karhutla Masih Tinggi

Data yang disampaikan dalam peninjauan tersebut menunjukkan tekanan karhutla di Kalteng masih cukup besar. Tercatat 107.309 hotspot, 2.819 firespot dan sekitar 9.228,04 hektare lahan terbakar, dengan konsentrasi kebakaran tertinggi berada di Kabupaten Kotawaringin Timur.

Kondisi tersebut menempatkan penanganan karhutla bukan sekadar persoalan pemadaman, tetapi juga menyangkut perlindungan masyarakat dari dampak asap, keselamatan petugas serta pencegahan agar kebakaran tidak terus berulang.

Pemerintah Provinsi Kalteng sebelumnya juga menegaskan pentingnya pembasahan gambut, penyekatan kanal serta penguatan koordinasi lintas instansi dalam menghadapi karhutla.

Sementara Polda Kalteng menyatakan penanganan karhutla juga akan dibarengi dengan penegakan hukum terhadap pihak yang terbukti melakukan pembakaran. Langkah tersebut disebut sebagai bagian dari upaya memberikan efek jera sekaligus mencegah kebakaran berulang.

Dengan kondisi kemarau dan kekeringan yang masih menjadi ancaman, efektivitas strategi di lapangan kini menjadi perhatian. Teknologi, personel dan infrastruktur tata air harus mampu diterjemahkan menjadi respons nyata sebelum titik panas berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas.

Kaltengnews.id | Cepat, Akurat dan Terpercaya

Redaksi Utama