Rawing Rambang: KARHUTLA Tekan Produksi Sawit, Permintaan CPO Naik

Rawing Rambang: KARHUTLA Tekan Produksi Sawit, Permintaan CPO Naik
DR. IR. RAWING RAMBANG, MP

PALANGKA RAYA, Kaltengnews.id – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di sejumlah wilayah sentra perkebunan sawit Indonesia berpotensi menekan produktivitas kelapa sawit. Di sisi lain, permintaan Crude Palm Oil (CPO) untuk kebutuhan domestik maupun pasar global diperkirakan tetap meningkat.

Hal tersebut disampaikan Dr. Ir. Rawing Rambang, MP, Sekretaris Eksekutif GAPKI Kalimantan Tengah, yang menyoroti dampak kondisi kekeringan dan tingginya suhu terhadap produktivitas perkebunan kelapa sawit, khususnya di Kalimantan dan Sumatera.

Menurut Rawing, kondisi karhutla yang terjadi sejak memasuki Triwulan III 2026 perlu menjadi perhatian karena kekeringan berkepanjangan dapat mengganggu ketersediaan air yang dibutuhkan tanaman kelapa sawit untuk mempertahankan produktivitas.

“Kondisi karhutla yang terjadi di Indonesia tentunya sangat berpengaruh terhadap produktivitas kelapa sawit yang ada di daerah penghasil sawit utama, khususnya Kalimantan dan Sumatera,” ujar Rawing.

Rawing memperkirakan tekanan terhadap produksi sawit pada Triwulan III 2026 dapat mencapai rata-rata sekitar 20–25 persen, terutama pada perkebunan yang mengalami keterbatasan air dan pemeliharaan.

Menurutnya, perkebunan sawit rakyat menjadi salah satu sektor yang perlu mendapat perhatian karena kemampuan melakukan pemeliharaan, penyiraman dan pemupukan relatif terbatas.

“Yang sangat terdampak terutama kebun-kebun kelapa sawit rakyat, dimana pemeliharaan, penyiraman dan pemupukan sangat terbatas,” jelasnya.

Ia menjelaskan, dampak kekeringan terhadap kelapa sawit tidak selalu langsung terlihat. Tekanan terhadap tanaman dapat memengaruhi proses pembentukan bunga dan perkembangan buah, sehingga dampaknya terhadap produksi TBS dapat berlangsung hingga periode berikutnya.

Karena itu, kondisi cuaca pada akhir Triwulan III dan memasuki Triwulan IV 2026 dinilai menjadi salah satu faktor penting bagi keberlanjutan produksi sawit.

Baca Juga :  Dukung Program Presiden, Pemprov Kalteng Siapkan Penambahan Sekolah Rakyat

Di tengah potensi penurunan produksi, Rawing memperkirakan permintaan CPO di pasar domestik maupun global tetap mengalami peningkatan.

Untuk pasar dalam negeri, kebijakan pemerintah terkait biodiesel menjadi salah satu faktor utama yang mendorong kebutuhan CPO.

“Faktor pendorong utama kebutuhan dalam negeri adalah kebijakan biodiesel,” katanya.

Sementara untuk pasar ekspor, Indonesia memiliki sejumlah negara tujuan penting, di antaranya India, Jepang dan China.

Menurut Rawing, kondisi tersebut membuat keseimbangan antara produksi dan permintaan CPO menjadi penting. Jika produksi mengalami tekanan akibat faktor cuaca sementara kebutuhan tetap meningkat, maka pasokan CPO perlu diantisipasi.

Rawing berharap kondisi karhutla dan kekeringan segera berakhir. Hujan yang mulai turun di sejumlah wilayah Kalimantan dan Sumatera dinilai menjadi harapan bagi pemulihan kondisi perkebunan.

“Namun demikian kita berharap dalam beberapa hari ke depan bencana karhutla ini dapat berlalu, mengingat di daerah tertentu di Kalimantan dan Sumatera telah mengalami hujan,” ungkapnya.

Ia menilai apabila pada awal Oktober 2026 hujan turun secara merata di daerah sentra produksi sawit, kebutuhan CPO untuk pasar domestik dan ekspor masih dapat dipenuhi.

“Apabila pada awal Oktober 2026 ini telah ada hujan yang merata di setiap daerah penghasil sawit, Kalimantan dan Sumatera, maka kebutuhan permintaan CPO optimistis akan dapat dipenuhi, baik kebutuhan CPO di dalam negeri maupun di luar negeri selama sisa waktu tahun 2026 dan tahun 2027,” pungkas Rawing.

Menurutnya, kondisi tersebut sekaligus menjadi pengingat pentingnya memperkuat ketahanan perkebunan sawit rakyat dalam menghadapi perubahan cuaca dan periode kekeringan.

Kaltengnews.id — Cepat, Akurat dan Terpercaya.

Redaksi Utama