Kalteng Diselimuti Asap, Puluhan Ribu Warga Terserang ISPA

PALANGKA RAYA – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menimbulkan dampak serius di Kalimantan Tengah. Selain menurunkan kualitas udara secara drastis, kabut asap yang menyelimuti sejumlah wilayah kini memicu lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), dengan jumlah penderita dilaporkan telah mencapai sekitar 58 ribu orang.
Kabut asap pekat yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir mengganggu aktivitas masyarakat, mengurangi jarak pandang, hingga meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama bagi kelompok rentan seperti balita, anak-anak, lansia, ibu hamil, dan penderita penyakit pernapasan.
Paparan asap karhutla diketahui mengandung partikel halus (PM2.5) serta berbagai zat berbahaya yang dapat masuk ke saluran pernapasan. Kondisi tersebut berpotensi menyebabkan batuk, sesak napas, iritasi mata, tenggorokan, hingga memperburuk penyakit asma dan gangguan paru kronis.
Pemerintah daerah bersama instansi terkait terus melakukan berbagai langkah penanganan, mulai dari pemadaman titik api, pemantauan kualitas udara, hingga mengimbau masyarakat untuk membatasi aktivitas di luar ruangan. Sejumlah daerah juga telah menyiapkan pembagian masker sebagai langkah antisipasi apabila kualitas udara semakin memburuk.
Masyarakat diimbau untuk selalu menggunakan masker saat berada di luar rumah, memperbanyak konsumsi air putih, menutup pintu dan jendela ketika kabut asap semakin pekat, serta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala ISPA seperti batuk berkepanjangan, sesak napas, atau demam.
Musim kemarau yang masih berlangsung membuat potensi karhutla diperkirakan masih tinggi. Oleh karena itu, seluruh elemen masyarakat diminta tidak membuka lahan dengan cara membakar serta segera melaporkan apabila menemukan titik api agar kebakaran dapat ditangani sejak dini.
Situasi ini kembali menjadi pengingat bahwa karhutla bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga ancaman nyata terhadap kesehatan masyarakat dan aktivitas ekonomi di Kalimantan Tengah. Pencegahan kebakaran serta penanganan cepat menjadi kunci untuk meminimalkan dampak yang lebih luas.(Red/ig)






